PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK
Pemurnian Garam Dapur
Di Indonesia memiliki segudang permasalahan di industri garam, yang salah satunya terkait dengan pengelolaan garam. Pengelolaan garam di Indonesia belum didukung oleh alat dan sumber daya manusia yang mumpuni, padahal secara geografis Indonesia berpotensi menghasilkan garam-garam yang berkualitas. Nah hal ini didasari fakta bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan yang lebih luas dengan lautan daripada daratan. Masalah ini memaksa pemerintah Indonesia untuk mengimport garam dari luar negeri. Akibat impor tersebut, produksi garam di Indonesia mengalami penurunan. Maka dari itu salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas melalui pemahaman tentang pembuatan garam.
Kualitas garam di Indonesia masih tergolong kualitas rendah, hal ini disebabkan fasilitas yang kurang memadai, sehingga perlu dilakukan pemurnian garam tersebut. Salah satu hal yang dilakukan adalah pemurnian NaCl. Pemurnian NaCl dari garam meja mentah menggunakan metode rekristalisasi dengan penguapan dan pengendapan. Proses rekristalisasi terdiri dari melarutkan zat tidak murni dalam pelarut tertentu, menyaring larutan panas sehingga zat yang tidak larut menjadi kristal, memisahkan kristal dari larutan dan memperoleh senyawa kimia dengan kemurnian sangat tinggi yang sangat penting untuk keperluan kimiawi.
Metode umum untuk memurnikan padatan adalah rekristalisasi (pembentukan kristal berulang). Banyak pemurnian dilakukan untuk meningkatkan kualitas zat yang dimaksud.
Pemurnian garam merupakan upaya menghilangkan kotoran (impurity) yang menempel pada kristal garam. Salah satu unsur yang menentukan kualitas garam adalah NaCl. Garam yang berasal dari penguapan air laut memiliki kandungan 97% lebih tinggi, tetapi pada praktiknya umumnya lebih rendah. Ini karena kualitas air, cara pembuatannya, dan cara lain yang memengaruhi kristal garam. Garam yang mengandung NaCl tinggi, umumnya berwarna putih murni, namun terkadang ditemukan garam putih murni mengandung kandungan gypsum (CaSO tinggi sedangkan kandungan NaCl sendiri relatif rendah (Astuti et al., 2016).
Natrium klorida (NaCl) adalah salah satu bahan utama yang digunakan dalam pengolahan alami, berperan penting dalam kualitas teknologi, mikrobiologis dan sensorik. Bahan ini merupakan sumber utama natrium, unsur yang menjadi sasaran pengurangan seluruh rantai produksi pangan olahan, khususnya produk daging. Natrium klorida (NaCl) telah dijelaskan oleh banyak orang sebagai senyawa prooksidan yang mampu mempengaruhi perkembangan dan intensitas reaksi lipid pada salamis. Efeknya pada oksidasi lipid tampaknya disebabkan oleh aksi reaktif ion klorida pada lipid atau pelarutan besi dengan ion klorida, yang menstimulasi peroksidasi lipid.
Pada percobaan pemurnina garam dapur ini pertama-tama melarutkan 18 gram NaCl kotor dalam 0,05 liter air sehingga larutan menjadi larutan garam yang jenuh. Kemudian dialirkan gas HCl kedalam larutan tadi dengan tujuan untuk menjenuhkan serta menetralkan larutan yang ada pada garam yang akan diperoleh. Adapun reaksi yang terjadi yaitu :
NaCl (aq) + HCl (g) → NaCl (aq) + HCl (aq)
Pada percobaan pemurnian garam dapur ini pengamatan yang dihasilkan yaitu terdapat adanya gas berwarna kuning dan juga berembun yang terdapat pada Erlenmeyer, juga terdapat pula endapan berwarna putih dan larutan yang berwarna kuning. Tahap selanjutnya dilakukan proses penyaringan terhadap larutan tersebut dan didapatkanlah kristal berwarna putih dengan filtrat berwarna kuning. Kristal yang diperoleh ini kemudian dicuci dengan sedikit air dingin. Dimana proses pencucian ini bertujuan untuk agar kristal yang diperoleh terbebas dari zat pengotor. Kristal yang telah dicuci dengan air dingin tersebut kemudian dikeringkan lagi. Setelah dikeringkan maka didapatlah kristal garam dapur yang murni, yang mana kristal yang hanya mengandung NaCl dengan berat sebesar 2,68 gram.
Komentar
Posting Komentar